Ketika Sebuah Rumah Kayu Menjadi Data
Zulkifli

Udara sore di Jembatan Getek selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Jembatan yang menghubungkan Kota Tembilahan dengan Desa Sungai Luar itu membentang di atas Sungai Batang Tuaka yang airnya berwarna kecokelatan. Di pinggiran jembatan, beberapa warga menikmati jajanan sore sambil memandang matahari yang perlahan turun ke ufuk barat. Hamparan mangrove yang menghijau di kedua sisi sungai membingkai aliran air yang tenang, menghadirkan lanskap khas negeri seribu parit.
Sore itu, langkah saya tidak berhenti di jembatan. Saya melanjutkan perjalanan menuju sebuah rumah kayu sederhana yang berdiri tak jauh dari ujungnya. Rumah itu bukan toko besar dengan etalase mewah, bukan pula pabrik modern yang dipenuhi mesin-mesin canggih. Namun dari rumah sederhana itulah lahir amplang udang yang telah dikenal hingga Pekanbaru, Indragiri Hulu, Pelalawan, bahkan menyeberang ke Sumatera Barat.
Pemilik rumah itu adalah Santi, perempuan berusia 42 tahun yang sejak 2013 membangun usaha rumahan bersama suaminya. Senyumnya menyambut saya begitu hangat. Di ruang tamu rumah kayu itu tak terlihat kursi maupun meja. Kami duduk bersila di atas lantai papan yang mulai mengilap dimakan usia. Di samping kami, sebuah toples besar berisi amplang udang menjadi teman perbincangan sore itu. Tak lama kemudian, segelas teh es dan sepiring nasi lemak tersaji.
Saya datang bukan sebagai pembeli. Saya datang untuk mendengar kisah tentang bagaimana sebuah usaha rumahan mampu bertahan lebih dari satu dekade, menghidupi sebuah keluarga, sekaligus menjadi sumber penghasilan bagi banyak orang di sekitarnya.
Tiga belas tahun silam, kehidupan Bu Santi jauh berbeda. Kala itu, ia hanyalah seorang ibu rumah tangga yang bekerja sebagai buruh penggoreng amplang di kampungnya selama kurang lebih satu tahun. Dari pekerjaan itulah ia belajar banyak hal. Ia melihat bagaimana udang segar hasil tangkapan nelayan di Sungai Luar diolah menjadi makanan ringan yang selalu memiliki pasar.
Di balik pekerjaan sederhana itu, Bu Santi justru menemukan peluang. Pada 2013, bersama suaminya, ia memberanikan diri memulai usaha sendiri. Modal yang dimiliki tidak banyak. Peralatan pun sangat sederhana. Dapur rumah menjadi tempat pertama mereka memproduksi amplang. Tak ada mesin modern, tak ada pekerja, bahkan belum ada pelanggan tetap. Yang mereka miliki hanyalah keyakinan untuk memulai.
Namun keberanian saja ternyata belum cukup. "Awalnya sering gagal," kenangnya sambil tersenyum. Adonan yang terlalu lembek, rasa yang belum pas, hingga amplang yang gagal mengembang menjadi tantangan yang hampir setiap hari mereka hadapi. Berkali-kali mereka memperbaiki komposisi bahan, mencoba teknik baru, lalu kembali gagal.
Bagi Bu Santi, membuat amplang bukan sekadar mencampurkan tepung dan udang. Ada kesabaran yang harus dijaga. Ada ketelitian yang tidak boleh diabaikan. Bahkan suasana hati pun, menurutnya, ikut menentukan hasil.
"Kalau lagi kesal atau banyak pikiran, jangan buat amplang. Hasilnya pasti kurang bagus," ujarnya sambil tertawa kecil.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Di balik setiap amplang yang renyah, tersimpan perjalanan panjang yang ditempa oleh kegagalan, ketekunan, dan kesabaran yang tak pernah putus. Perlahan, usaha kecil itu mulai menemukan jalannya.
Dari pelanggan yang awalnya hanya keluarga dan tetangga, pesanan terus berdatangan dari berbagai daerah. Nama Bu Santi pun dikenal sebagai salah satu produsen amplang udang di Sungai Luar yang konsisten menjaga kualitas produknya.
Saya kemudian diajak melihat bagian belakang rumah. Ruang tamu yang biasanya menjadi tempat berkumpul keluarga kini dipenuhi toples-toples besar berisi amplang siap jual. Di dapur, tiga kompor gas berdiri berdampingan menopang sebuah kuali besar yang baru selesai digunakan menggoreng. Aroma gurih udang berpadu dengan wangi minyak hangat memenuhi ruangan sederhana itu. Beberapa perempuan tampak cekatan mengemas amplang ke dalam plastik. Tangan mereka bergerak cepat, seolah telah hafal irama pekerjaan yang dilakukan setiap hari. Sesekali terdengar tawa yang memecah kesunyian sore.
Rumah kayu itu bukan lagi sekadar tempat tinggal. Rumah itu telah menjelma menjadi ruang produksi yang menghidupi banyak keluarga.
"Kalau hari biasa sekitar 20 kilogram per hari," tutur Bu Santi.
Saat Ramadan, produksinya melonjak tajam hingga mendekati satu ton. Untuk memenuhi permintaan tersebut, ia menambah tenaga kerja dari warga sekitar. Namun, yang paling menarik perhatian saya justru bukan besarnya angka produksi.
Di balik setiap kilogram amplang yang keluar dari rumah itu, ada mata rantai ekonomi yang terus bergerak. Udang diperoleh dari nelayan di Sungai Luar, Tempuling, Pulau Palas, hingga Sungai Bela ketika pasokan berkurang. Sebelum masuk ke dapur Bu Santi, udang-udang itu terlebih dahulu dibersihkan oleh warga yang menggantungkan penghasilannya dari pekerjaan tersebut. Setelah amplang selesai diproduksi, produk itu kembali berpindah tangan melalui pedagang dan para reseller sebelum akhirnya sampai ke meja makan pelanggan di berbagai daerah.
Baru saat itulah saya menyadari bahwa rumah kayu sederhana ini bukan sekadar tempat memproduksi makanan ringan. Rumah ini adalah simpul kecil yang menghubungkan nelayan, pekerja, pedagang, dan konsumen dalam satu ekosistem ekonomi yang terus bergerak setiap hari.
Barangkali, rumah Bu Santi hanyalah satu titik kecil di peta Kabupaten Indragiri Hilir. Namun saya percaya, masih ada ribuan rumah sederhana lain yang menyimpan kisah serupa. Ada usaha mikro yang tumbuh dalam diam, menghidupi keluarga, membuka lapangan kerja, sekaligus menjadi penopang ekonomi desa tanpa banyak mendapat sorotan.
Jika rumah-rumah seperti ini dikumpulkan dari seluruh pelosok negeri, sesungguhnya di sanalah wajah perekonomian Indonesia mulai terlihat. Lalu muncul sebuah pertanyaan di benak saya.
Bagaimana pemerintah mengetahui keberadaan usaha-usaha seperti ini? Bagaimana aktivitas ekonomi yang berlangsung di rumah-rumah sederhana tersebut dapat dihitung, dipetakan, lalu dijadikan dasar dalam menyusun kebijakan pembangunan?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membawa saya mengenal lebih dekat Sensus Ekonomi 2026.
Ketika Data Menjadi Cahaya Pembangunan
Rumah Bu Santi mungkin hanya satu titik kecil di peta Kabupaten Indragiri Hilir. Namun, jika rumah-rumah sederhana seperti itu dikumpulkan dari seluruh penjuru Indonesia, tersusunlah gambaran besar tentang wajah perekonomian bangsa.
Pertanyaan itulah yang kemudian membawa saya bertemu dengan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Indragiri Hilir, Zulyadi.
Di balik setiap publikasi statistik yang selama ini saya baca, ternyata tersimpan proses panjang yang jarang diketahui masyarakat. Ada ribuan petugas yang turun ke lapangan, menyusuri gang-gang kecil, menyeberangi sungai, hingga mengetuk pintu rumah pelaku usaha satu per satu demi memastikan tidak ada aktivitas ekonomi yang luput dari pendataan.
Upaya itulah yang kembali dilakukan melalui Sensus Ekonomi 2026 (SE2026), agenda nasional yang diselenggarakan setiap sepuluh tahun sekali pada tahun yang berakhiran angka enam.
Berbeda dengan survei yang hanya mengambil sebagian responden sebagai sampel, sensus mendata seluruh unit usaha. Mulai dari perusahaan besar, toko kelontong, bengkel, warung kopi, hingga industri rumah tangga seperti milik Bu Santi, semuanya menjadi bagian dari potret ekonomi Indonesia.
"Sensus itu menghitung semuanya, sedangkan survei hanya sebagian," jelas Zulyadi.
Ia menjelaskan, pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 berlangsung pada Mei hingga Agustus 2026. Perusahaan berskala besar melakukan pengisian data secara mandiri melalui sistem daring, sedangkan jutaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah akan didatangi langsung oleh petugas sensus dari rumah ke rumah.
Dalam setiap kunjungan, petugas mengajukan sekitar 73 pertanyaan yang mencakup karakteristik usaha, tenaga kerja, hingga berbagai informasi lain yang diperlukan untuk memotret struktur perekonomian Indonesia secara utuh.
Namun, tujuan sensus bukan sekadar mengetahui berapa banyak usaha yang berdiri di suatu daerah. Menurut Zulyadi, hasil Sensus Ekonomi akan memberikan gambaran mengenai struktur dunia usaha, perkembangan ekonomi digital, hingga ekonomi lingkungan yang kini menjadi bagian penting dalam transformasi ekonomi Indonesia.
Saat mendengar penjelasan itu, saya kembali teringat pada rumah Bu Santi.
Rumah kayu yang tampak sederhana itu ternyata memiliki arti yang jauh lebih besar daripada yang saya bayangkan. Bukan semata-mata karena amplang buatannya dikenal di berbagai daerah. Melainkan karena rumah itu merupakan bagian dari potret ekonomi yang ingin dipahami negara.
Bagi Zulyadi, pentingnya data dapat diibaratkan seperti seseorang yang memasuki sebuah ruangan gelap. Tanpa cahaya, ia tidak mengetahui apa yang berada di hadapannya. Setiap langkah penuh ketidakpastian karena bisa saja terbentur atau salah menentukan arah. Begitu pula pembangunan.
"Kalau kita ibaratkan, pembangunan tanpa data sama seperti seseorang masuk ke ruangan yang gelap tanpa penerangan. Kita tidak tahu apa yang ada di depan, sehingga bisa saja terbentur ke sana kemari," ujarnya.
Analogi itu membekas di benak saya. Selama ini saya mengira data hanyalah deretan angka yang memenuhi tabel dan grafik. Padahal, setiap angka sesungguhnya mewakili kehidupan seseorang—nelayan yang menjual hasil tangkapannya, ibu-ibu yang mengemas amplang di ruang tamu rumahnya, pedagang kecil yang membuka warung setiap pagi, hingga pelaku usaha yang terus bertahan di tengah naik turunnya kondisi ekonomi. Namun, mengumpulkan jutaan data tersebut tentu bukan pekerjaan yang mudah.
Di Kabupaten Indragiri Hilir, tantangan terbesar justru datang dari bentang alamnya. Wilayah yang didominasi sungai, rawa, dan pasang surut membuat perjalanan petugas sensus tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Ada kalanya mereka harus menunggu air pasang selama berjam-jam agar pompong dapat kembali berlayar. Tidak jarang pula petugas memilih bermalam di desa karena perjalanan pulang baru bisa dilakukan keesokan harinya ketika air sungai kembali bersahabat.
"Di Inhil ini tantangannya memang berbeda. Ada daerah yang hanya bisa ditempuh lewat jalur sungai. Karena itu kami merekrut petugas dari daerah setempat agar mereka lebih memahami medan," kata Zulyadi.
Cerita itu membuat saya memandang statistik dari sudut yang berbeda. Ternyata, setiap angka yang nantinya muncul dalam publikasi BPS lahir dari perjalanan panjang. Ada petugas yang menyusuri sungai, mengetuk pintu rumah warga, dan membangun kepercayaan agar masyarakat bersedia berbagi informasi mengenai usaha yang mereka jalankan.
Karena itu, Zulyadi berharap masyarakat tidak ragu menerima kedatangan petugas sensus. Seluruh petugas akan dilengkapi surat tugas resmi, atribut, serta kartu identitas yang memiliki QR Code, sehingga masyarakat dapat memverifikasi identitas mereka secara langsung.
Ia juga memastikan seluruh informasi yang diberikan pelaku usaha akan dijaga kerahasiaannya. Data tidak dipublikasikan secara perorangan, melainkan diolah menjadi statistik dalam bentuk agregat sebagai dasar penyusunan berbagai kebijakan pembangunan.
"Data yang kita berikan hari ini bukan hanya untuk hari ini," ujar Zulyadi.
"Data itu akan menjadi bekal bagi pemerintah dalam melihat kondisi ekonomi, menentukan arah pembangunan, dan memastikan setiap kebijakan benar-benar berpijak pada keadaan yang ada di lapangan."
Ketika Angka Menjadi Arah Pembangunan
Perjalanan saya mencari jawaban belum berhenti di Badan Pusat Statistik. Masih ada satu pertanyaan yang menggelayut di benak saya. Setelah jutaan data dikumpulkan dari rumah-rumah pelaku usaha di seluruh Indonesia, lalu apa yang terjadi? Apakah data itu hanya menjadi deretan angka dalam laporan statistik? Ataukah benar-benar digunakan untuk mengubah kehidupan masyarakat?
Jawaban atas pertanyaan itu saya temukan di Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Indragiri Hilir. Di sinilah data mulai berbicara. Angka-angka yang dikumpulkan para petugas sensus diterjemahkan menjadi arah pembangunan.
Sekretaris Bapperida Kabupaten Indragiri Hilir, Rio Aditya Pratama, S.STP menjelaskan bahwa data statistik, khususnya data ekonomi yang dirilis Badan Pusat Statistik, merupakan salah satu fondasi utama dalam menyusun perencanaan pembangunan daerah.
Melalui data tersebut, pemerintah dapat membaca sektor-sektor yang menjadi penggerak ekonomi, mengukur keberhasilan berbagai program pembangunan, hingga mengantisipasi persoalan ekonomi sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Bagi pemerintah daerah, data bukan sekadar angka. Data adalah kompas. Tanpanya, pembangunan mudah kehilangan arah.
Saya kemudian kembali teringat kepada Bu Santi. Usaha amplang yang ia jalankan mungkin terlihat sederhana. Namun, jika dikumpulkan bersama ribuan usaha mikro lainnya, kisah-kisah seperti miliknya akan membentuk gambaran utuh mengenai kekuatan ekonomi Kabupaten Indragiri Hilir. Dan itulah yang sesungguhnya dibutuhkan pemerintah.
Kabupaten Indragiri Hilir saat ini tengah mendorong penguatan sektor unggulan berbasis pertanian serta hilirisasi industri berbahan baku lokal. Untuk itu, pemerintah memerlukan data yang mampu menggambarkan aktivitas usaha masyarakat secara lebih rinci, terutama usaha mikro dan industri rumah tangga yang mengolah hasil pertanian maupun perikanan.
Melalui data tersebut, pemerintah dapat memetakan sektor yang telah menjadi unggulan, sektor yang berpotensi berkembang, hingga sektor yang masih memerlukan perhatian. Pemetaan itu menjadi dasar dalam menyusun berbagai program pemberdayaan UMKM, memperkuat hilirisasi, mendorong investasi, sekaligus mengembangkan ekonomi hijau (green economy) dan ekonomi biru (blue economy).
Namun, seluruh harapan itu hanya dapat terwujud apabila data yang dikumpulkan benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan. Sebab kebijakan pembangunan yang tidak didukung data yang akurat berisiko menghasilkan keputusan yang tidak tepat sasaran, tidak efisien, bahkan gagal menjawab kebutuhan masyarakat.
Kalimat itu membawa pikiran saya kembali kepada rumah kayu Bu Santi di tepi Sungai Batang Tuaka. Rumah itu bukan lagi sekadar tempat seorang ibu memproduksi amplang. Rumah itu menjadi cerminan ribuan usaha kecil yang setiap hari menggerakkan roda perekonomian, meski sering kali luput dari perhatian.
Saat saya meninggalkan Desa Sungai Luar, langit mulai berubah jingga. Cahaya matahari sore memantul di permukaan Sungai Batang Tuaka, sementara angin pelan kembali berembus melintasi Jembatan Getek—tempat perjalanan ini bermula.
Di belakang saya, rumah kayu Bu Santi perlahan mengecil. Besok pagi, rumah itu akan kembali hidup. Kompor akan kembali menyala. Adonan amplang akan kembali diuleni. Nelayan akan kembali membawa hasil tangkapannya. Para pekerja akan kembali mengemas amplang yang kemudian beredar ke berbagai daerah.
Rutinitas itu mungkin tampak biasa. Namun kini saya memandangnya dengan cara yang berbeda. Saya tidak lagi melihatnya hanya sebagai aktivitas sebuah usaha rumahan. Saya melihat sebuah mata rantai ekonomi yang terus bergerak. Barulah saya memahami mengapa Sensus Ekonomi 2026 menjadi begitu penting.
Sebab pada akhirnya, sensus bukan sekadar menghitung jumlah usaha. Ia memastikan bahwa kerja keras orang-orang seperti Bu Santi tidak sekadar menjadi cerita, tetapi juga tercatat sebagai bagian dari data pembangunan Indonesia.
Karena pembangunan yang baik bukan hanya lahir dari ruang rapat atau lembar-lembar perencanaan. Ia lahir ketika negara mampu melihat, mengenali, dan memahami setiap denyut ekonomi rakyatnya.
Dan sore itu saya belajar bahwa pembangunan kadang bermula dari tempat yang paling sederhana: sebuah rumah kayu di tepian Sungai Batang Tuaka.

